Smart Summary
Intisari & Insights
Kegiatan sambangan bulanan di Pesantren Sains Tebuireng berjalan hangat dan penuh kedisiplinan. Dengan prosedur perizinan resmi dan batas waktu yang ditentukan, momen ini dimanfaatkan para wali santri untuk mengobati rasa rindu sekaligus melihat perkembangan karakter anak mereka.
(LENSA)-“Pertemuan dengan orang paling diinginkan dan disayangi sebagai obat rindu.” Itulah ungkapan yang diberikan oleh ustadzah Syofiatul Hasanah untuk mendefinisikan arti ‘sambangan’ .
Pada hari Jum’at (23/10/2026), sebagian santri Pesantren Sains Tebuireng melakukan kegitan bulanan yakni sambangan untuk melepas rasa rindu mereka kepada orang tua dan sanak saudara. Prosedur diawali dengan konfirmasi orang tua ke Pembina jika ingin melakukan sambangan pada hari yang ditentukan, kemudian santri akan meminta tanda tangan kepada Pembina dan Majelis Amni untuk diizinkan melakukan sambangan. Santri diwajibkan untuk kembali sebelum batas waktu yang ditentukan yakni pukul 16.00 WIB. serta tetap berada di kawasan yang diizinkan oleh pondok. Apabila terdapat santri yang melakukan pelanggaran, maka akan diberlakukan sanksi sesuai dengan bobot pelanggaran yang dilakukan.
Kebijakan ini diberlakukan oleh pihak pondok untuk melatih kedisiplinan santri. “Alhamdulillah anaknya displin, ada kemajuan dari anaknya.” Ungkap salah satu walisantri dari Farsha VII-C dan Zaila Regina kelas X sains 8. Beliau merasa bersyukur dapat bertemu Kembali dengan kedua anaknya serta menghabiskan waktu untuk mengelilingi alun-alun kota Jombang. Namun, beliau mengatakan bahwa meskipun tidak dapat bertemu secara langsung ia tetap dapat melepas rasa rindu lewat telepon yang dilakukan setiap minggunya.
Pewarta: Tim Berita Lensa