"What man actually needs is not a tensionless state, but rather the striving and struggling for a worthwhile goal." Lewat pidatonya, Ihdina Mafaza Firdausi mengajak generasi muda untuk mengubah sudut pandang kesehatan mental—dari kerapuhan menjadi keteguhan jiwa yang dilandasi nilai spiritual.
(LENSA)-“What man actually needs is not a tensionless state, but rather the striving and struggling for a worthwhile goal.”
Salah satu kutipan dari seluruh penyampaianspeechdengan tema “Rethinking Mental Health: From Fragility to Fortitude.” yang disampaikan oleh siswi Ihdina Mafaza Firdausi dari kelas XIIscience7 pada hari Senin, 5 Oktober 2026. Bertempat pada masjid Sholahuddin Al Ayyubi.
Generasi muda sekarang memiliki kesadaran atas gangguan mental dan fenomena yang menjadi sorotan. gangguan kesehatan mental dikarenakan standar akademi yang tinggi, kelelahan yang ekstrem, dan kehidupan akan selalu terpaku pada guru yang sulit dihadapi.
Pada pidatonya, ia juga mengatakan dengan Q.S Al-insyirah:5-6. Allah SWT berfirman:
“فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا _ إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا”
“for indeed, with hardship comes ease. indeed, with hardship comes ease.”
disetiap kesulitan pasti ada kemudahan. seperti tokoh-tokoh besar yang pasti pernah merasakan kegagalan.
Maka dari itu, ia memotivasi para siswa/i untuk menanamkan mindset bahwa kita bisa menjadi lebih kuat dibandingkan dengan apa yang pikirkan bagi diri kita sendiri. mari kita bersama membangun generasi yang tidak hanya memiliki kesadaran emosional tetapi juga teguh secara spiritual dan berani untuk tetap melangkah maju.
pewarta: Belva Bernessa Quflun P. kelas XI-7 & Fadhila Humayra K. kelas XI-7