MASA DEPAN PEMIMPIN BANGSA

MASA DEPAN PEMIMPIN BANGSA

Tanggal Terbit

Durasi Baca

3 menit

Total Views

0 Kali

Pendidikan masa depan menghadirkan pembelajaran yang lebih modern, fleksibel, dan berbasis teknologi. Teknologi menjadi bagian penting dalam menciptakan pendidikan masa depan yang inovatif dan sesuai kebutuhan generasi muda.

(Lensa)-Indonesia Emas 2045,

begitulah impian seluruh warga republik Indonesia terkait dengan masa depan negeri ini yang selanjutnya akan dipimpin oleh generasi muda kedepannya. Namun kita mungkin tidak menyadari bahwa untuk faktor penyokong dari Indonesia Emas ini bukan hanya generasi mudanya saja, namun pendidikan juga menjadi salah satu faktor pembangunmindsetgenerasi muda tersebut. Lalu sudahkah kita membuka mata terkait isu pendidikan yang ada saat ini?

Pendidikan adalah senjata melawan perang kemiskinan”,itu kata mereka.

Namun masih banyak sekali isu yang menyebar di Indonesia terkait ketidakmerataan kesempatan belajar di negeri ini, masih banyak orang membayar hanya untuk memberikan anak atau kenalan mereka bangku disekolah negeri.

Lalu, bagaimana nasib anak anak yang untuk mendapatkan uang saja mereka harus bangun di waktu fajar untuk berkeliling menjajakan dagangan mereka? Mereka tidak memiliki kesempatan belajar yang sama dengan anak anak seusia mereka.

Atau masih banyak orangtua dari lokasi pemukiman yang tertinggal harus berupaya mengantarkan anak mereka menempuh jenjang pendidikan di wilayah perkotaan dan harga yang tidak sedikit karena di wilayah mereka tidak ada guru ataupun sekolah yang layak.

Sekolah tentu bukan hanya soal gedung ataupun murid di dalamnya, namun juga ada tenaga pengajar yakni guru serta kurikulum yang terlaksana di dalamnya.

Tapi mengapa di banyak sekolah para guru masih belum mendapatkan haknya, mereka memberikan jasanya kepada murid agar sejahtera nantinya nahasnya mereka sendiri bahkan belum bisa dikatakan sejahtera.

Mari kita bahas mengenai kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini. Kurikulum yang selalu berganti dan murid yang harus terus menerus beradaptasi dengan kurikulum yang ada.

Menurut saya, sekolah bukan soal bagus gedungnya ataupun bergengsi. Sekolah yang layak harus diiringi dengan pendidikan yang layak pula. Pendidikan yang mana mensejahterakan semua pihak, baik yang diajar ataupun yang mengajarkan.

Pemimpin harus kritis dalam berpikir, berani dalam bertindak dan bertanggung jawab.

Itulah kriteria pemimpin yang dibutuhkan Indonesia, bukan pemimpin yang mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Bukan pemimpin yang takut akan risiko diremehkan atau takut menyampaikan pemikiran mereka.

Kenyataannya banyak pelajar yang merasa mereka harus selalu benar. Dan benar yang mereka yakini bahkan kebanyakan bukan hasil dari keyakinan mereka sendiri, namun hasil pemikiran orang lain.

Mereka takut untuk berpikir kritis karena takut salah, atau beberapa dari mereka memiliki pemikiran kritis namun dibantah habis habisan oleh lingkungan mereka.

Pendidikan seharusnya meluas dan merangkul seluruh pemikiran pelajar sebagai motivasi serta pembimbing untuk keberlanjutan hidup. Namun masih banyak pelajar yang tidak mengerti makna asli dari pendidikan.

Masih banyak yang merasa pendidikan yang mereka tempuh sekarang adalah ajang dimana semua orang harus berlomba lomba menjadi yang pertama. Baik peringkat ataupun prestasi. Tapi bukan itu arti penting dari pendidikan.

Hal inilah yang mendorong para pelajar untuk menjadiindividualataupun merasa minder apabila ada teman sebaya mereka yang sudah melakukan lebih.

Bullyingjuga marak terjadi di sekolah negeri hanya karena ada satu atau lebih individual yang tidak sesuai dengan standar para siswa/siswi dan menjadikan mereka sebagai objek penindasan.

Kebanyakan pelakubullyingsendiri tidak mau mempertanggungjawabkan tindakan mereka dan dianggap sepeleh karena masih dibawah umur.

Lalu dari isu isu tersebut apakah pelajar pelajar ini dapat dikategorikan sebagai pemimpin masa depan bangsa? Akankah Indonesia meraih masa keemasannya?

Jawaban dari pertanyaan tersebut hanya soal waktu terjawab, namun alangkah baiknya kita menanggulangi isu isu tersebut dahulu lalu bermimpi akan hadirnya masa keemasan.

Kesimpulan dari pembahasan di atas ialah faktor pembangun pemimpin Indonesia yakni pelajar adalah pendidikan, namun masih banyak isu yang seharusnya bersih dari dunia pendidikan yakni ketidakmerataan kesempatan belajar, ketidaksejahteraan guru, serta kasus kasus yang masih banyak beredar di dalamnya sepertibullying.

Pewarta : Auliadya Rahma A. Z.

Cerita Terkait

Lihat Semua Warta
Tautan berhasil disalin!
Halo Ayah/Bunda, ada yang bisa dibantu?